.

TEORI PSIKOLOGI OLAHRAGA

Posted by Bermanhot Simbolon, S. Pd. Kamis, 15 Agustus 2013 0 komentar

Menjual buku psikologi olahraga

Oleh  : Bermanhot Simbolon, S. Pd.

A. Pengertian Psikologi Olahraga

1. Apakah Psikologi Olahraga?

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri.
Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya.

1.1 Sejarah Psikologi Olahraga di Indonesia

Jadi, di satu pihak seorang praktisi psikolog yang memiliki ijin praktik belum tentu memiliki cukup pengetahuan ilmu keolahragaan, di lain pihak, pakar keolahragaan tidak dibekali pendidikan khusus psikoterapi dan konseling. Akibatnya, sampai saat ini masih terjadi kerancuan akan siapa sesungguhnya yang berhak memberikan pelayanan sosial dalam bidang psikologi olahraga. Idealnya adalah seorang konsultan atau psikoterapis memperoleh pelatihan khusus dalam bidang keolahragaan; sehingga sebagai seorang praktisi ia tetap berada di atas landasan professinya dengan mengikuti panduan etika yang berlaku, dan di samping itu pengetahuan keolahragaannya juga cukup mendukung latar belakang pendidikan formalnya.
Dalam upaya mengatasi masalah ini IPO sebagai asosiasi psikologi olahraga nasional tengah berupaya menyusun ketentuan tugas dan tanggung jawab anggotanya. Di samping itu, IPO juga tengah berupaya menyusun kurikulum tambahan untuk program sertifikasi bagi para psikolog praktisi yang ingin memberikan pelayanan sosial dalam bidang psikologi olahraga. Kurikulum tersebut merupakan bentuk spesialisasi psikologi olahraga yang meliputi: 1) Prinsip psikologi olahraga, 2) Peningkatan performance dalam olahraga, 3) Psikologi olahraga terapan, 4) Psikologi senam.
Masalah lain yang juga kerapkali timbul dalam penanganan aspek psikologi olahraga adalah dalam menentukan klien utama. Sebagai contoh misalnya pengguna jasa psikolog dapat seorang atlet, pelatih, atau pengurus. Kepada siapa psikolog harus memberikan pelayanan utama jika terjadi kesenjangan misalnya antara atlet dan pengurus, padahal psikolog dipekerjakan oleh pengurus untuk menangani atlet, dan atlet pada saat tersebut adalah pengguna jasa psikologi. Di satu pihak psikolog perlu menjaga kerahasiaan atlet, di lain pihak pengurus mungkin mendesak psikolog untuk menjabarkan kepribadian atlet secara terbuka demi kepentingan organisasi. Sachs (1993) menawarkan berbagai kemungkinan seperti misalnya menerapkan perjanjian tertulis untuk memberikan keterangan; namun demikian, jika atlet mengetahui bahwa pribadinya akan dijadikan bahan pertimbangan organisasi, ia mungkin cenderung akan berperilaku defensif, sehingga upaya untuk memperoleh informasi tentang dirinya akan mengalami kegagalan. Karenanya, seorang psikolog harus dapat bertindak secara bijaksana dalam menangani masalah ini, demikian pula, hendaknya seorang pelatih yang kerapkali bertindak selaku konsultan bagi atletnya kerap kali harus mampu melakukan pertimbangan untuk menghadapi masalah yang serupa.

2. Mengapa Psikologi Olahraga Diperlukan dalam Olahraga?

Seringkali fisik dijadikan dasar utama tanpa memperhitungkan aspek psikisnya. Hal ini jelas keliru dan perlu adanya upaya perbaikan konsep dalam sistem pelatihan cabang olahraga.  Aspek psikis atlet ibarat obor yang siap membakar semangat atlet untuk mengeluarkan segala kemampuannya yang telah didapatkan dari proses latihan yang   peningkatannya. Kemampuan teknik dan fisik seseorang tidak akan begitu berarti ketika kejiwaannya (mental) tidak mampu mengerakkan untuk tampil optimal ( http://tonangjuniarta.blogspot.com/).
Adapun tujuan dalam mempelajari psikologi olahraga antara lain :

Tujuan eksplanatif, yaitu menjelaskan dan memahami gejala tingkah laku dan pengalaman manusia berolahraga, hal ini sangat perlu karena tindakan dan perbuatan yang tampak pada hakikatnya tidak dapat terlepas dari sikap yang tidak tampak yang didorong oleh banyak faktor-faktor psikologi lainnya,  seperti sifat-sifat pribadi individu, motifasi, pemikiran, kecemasan atlet, perasaan pengalamn dan juga situasi sekitar. 
Tujuan prediktif, yaitu meramalkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam olahraga, hal ini  perlu untuk bisa lebih siap hal-hal yang akan mungkin terjadi.
Tujuan kontrol, yaitu mengendalikan gejala-gejala tingkah laku dalam olahraga yang dapat mengarah ke hal-hal yang tidak menguntungkan perkembangan subjek (Setyobroto, 1989:14)
Pentingya Psikologi Olahraga terhadap Atlet

Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun.  Mereka dapat menjadi tegang. denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya seperti penampilan waktu latian. Dari keadaan ini maka pelatih pun harus bisa menguasai terhadap bidang psikologi olahraga, khususnya dalam pengendalian stres (Subandono; 2009).
Pelatih harus tahu apa penyebab membuat atlet merasa cemas sebelum bertanding, pelatih harus tahu bagaimana cara meredakan kecemasan atlet, pelatih harus tahu cara meningkatkan percaya diri atlet, pelatih harus tahu memotivasi atlet, dan lain sebagainya.

3. Bagaimanakah Psikologi Olahraga Dapat Membantu Atlet Agar Memiliki Mental yang Tangguh?

Mental yang tegar, sama halnya dengan teknik dan fisik, akan didapat melalui latihan yang terencana, teratur, dan sistematis. Dalam membina aspek psikis atau mental atlet, pertama-tama perlu disadari bahwa setiap atlet harus dipandang secara individual, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Untuk membantu mengenal profil setiap atlet, dapat dilakukan pemeriksaan psikologis, yang biasa dikenal dengan "psikotes", dengan bantuan psikometri.
Profil psikologis atlet biasanya berupa gambaran kepnbadian secara umum, potensi intelektual. dan fungsi daya pikimya yang dihubungkan dengan olahraga. Profil atlet pada umumnya tidak berubah banyak dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, orang sering beranggapan bahwa calon atlet berbakat dapat ditelusun semata-mata dari profil psikologisnya. Anggapan semacam ini keliru, karena gambaran psikologis seseorang tidak menjamin keberhasilan atau kegagalannya dalam prestasi olahraga, karena banyak sekali faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa aspek psikologis dapat diperbaiki melalui latihan ketrampilan psikologis (diuraikan kemudian) yang terencana dan sistematis, yang pelaksanaannya sangat tergantung dari komitmen si atlet terhadap program tersebut.

B. Aspek-aspek Psikologis yang berperan dalam Olahraga

Pengaruh faktor psikologis pada atlet akan terlihat dengan jelas pada saat atlet tersebut bertanding. Berikut ini akan diuraikan beberapa masalah psikologis yang paling sering timbul di kalangan olahraga, khususnya dalam kaitannya dengan pertandingan dan masa latihan.

1. Berpikir Positif

Berpikir positif dimaksudkan sebagai cara berpikir yang mengarahkan sesuatu ke arah positif, melihat segi baiknya. Hal ini perlu dibiasakan bukan saja oleh atlet, tetapi terlebih-lebih bagi pelatih yang melatihnya. Dengan membiasakan diri berpikir positif, maka akan berpengaruh sangat baik untuk menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Berpikir positif merupakan modal utama untuk dapat memiliki ketrampilan psikologis atau mental yang tangguh.
Pikiran positif akan diikuti dengan tindakan dan perkataan positif pula, karena pikiran akan menuntun tindakan. Sebagai contoh, jika dalam bermain bulutangkis terlintas pikiran negatif seperti, "takut salah, takut out, takut bola pukulannya tanggung" dan sebagainya, maka kemungkinan terjadi akan lebih besar. Karena itu cobalah dan biasakan untuk selalu berpikir positif, hindari yang negatif. Demikian juga dalam memberikan instruksi kepada atlet. Daripada mengatakan: "Kamu ini susah sekali sih diajarnya..., salah terus...! Awas, jangan berhenti sebelum bisa!", lebih baik mengatakannya dengan cara yang positif walaupun maksudnya sama: "Ayo, coba lagi pelan-pelan, kamu pasti bisa melakukannya. Perhatikan, tangannya, begini... langkahnya, ke sini... kena bolanya, di sini... ayo dicoba".
Sebagai pelatih, tunjukkan Anda percaya bahwa atlet Anda memiliki peluang untuk dapat berprestasi baik. Cemooh, celaan, dan kritik yang pedas yang tidak pada tempatnya, justru akan membuat atlet bereaksi negatif dan berakibat akan menurunkan motivasi yang diikuti dengan penurunan prestasi.

2. Penetapan Sasaran
Penetapan sasaran (goal setting) merupakan dasar dan latihan mental. Pelatih perlu membantu setiap atletnya untuk menetapkan sasaran, baik sasaran dalam latihan maupun dalam pertandingan. Sasaran tersebut mulai dan sasaran jangka panjang, menengah, sampai sasaran jangka pendek yang lebih spesifik.
Untuk menetapkan sasaran, ada tiga syarat yang perlu diingat agar sasaran itu bermanfaat, yaitu:
a. Sasaran harus menantang.
Sasaran yang ditentukan harus sedemikan rupa, sehingga atlet merasa tertantang untuk dapat mencapai sasaran tersebut.
b. Sasaran harus dapat dicapai.
Buatlah sasaran itu cukup tinggi, akan tetapi tidak terlalu tinggi. Atlet harus merasa bahwa sasaran yang ditetapkan itu dapat tercapai jika ia berusaha keras. Jika sasaran terlalu tinggi, sehingga atlet merasa mustahil dapat mencapainya, maka motivasi berlatihnya akan menurun. Demikian pula, jika sasaran tersebut terlalu mudah untuk dapat dicapai, maka atlet merasa tidak perlu berlatih keras karena ia akan dapat mencapai sasaran tersebut.
c. Sasaran harus meningkat.
Mulai dari sasaran yang relatif rendah, kemudian buatlah sasaran tersebut makin lama makin tinggi, semakin sulit tercapainya jika atlet tidak berlatih keras. Dalam setiap latihanpun biasakanlah selalu ada sasaran yang harus dicapai. Dan target yang bersifat umum, lalu uraikan lagi secara lebih spesifik. Dan target untuk suatu kompetisi jangka panjang, uraikan menjadi target atau sasaran jangka pendek, sampai target untuk setiap latihan. Sasaran yang ditetapkan tersebut, hendaknya juga ditetapkan kapan harus tercapainya, dan bagaimana pula cara mengukumya atau apa ukurannya secara objektif. Sedapat mungkin, buatkan grafik pencapaian sasaran tersebut agar terlihat jelas arah dan peningkatannya.

3. Motivasi
Motivasi dapat dilihat sebagai suatu proses dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu sebagai usaha dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi yang kuat menunjukkan bahwa dalam diri orang tersebut tertanam dorongan kuat untuk dapat melakukan sesuatu.
Ditinjau dari fungsi diri seseorang, motivasi dapat dibedakan antara motivasi yang berasal dan luar (ekstrinsik) dan motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri (intrinsik). Dengan pendekatan psikologis diharapkan atlet dalam setiap penampilannya dapat memperlihatkan motivasi yang kuat untuk bermain sebaik-baiknya, sehingga dapat memenangkan pertandingan.
Motivasi yang baik tidak mendasarkan dorongannya pada faktor ekstrinsik seperti hadiah atau penghargaan dalam bentuk materi. Akan tetapi motivasi yang baik, kuat, dan lebih lama menetap adalah faktor intrinsik yang mendasarkan pada keinginan pribadi yang lebih mengutamakan prestasi untuk mencapai kepuasan diri daripada hal-hal yang material.
Untuk mengembangkan motivasi intrinsik ini, peran pelatih dan orangtua sangat besar. Pelatih perlu melakukan pendekatan dan menumbuhkan kepercayaan diri pada atlet secara positif. Ajarkan atlet untuk dapat menghargai diri sendiri, oleh karena itu, pelatih harus memperlihatkan bahwa ia menghargai hasil kerja atlet secara konsekuen.

4. Emosi
Faktor-faktor emosi dalam diri atlet menyangkut sikap dan perasaan atlet secara pribadi terhadap diri sendiri, pelatih maupun hal-hal lain di sekelilingnya. Bentuk-bentuk emosi dikenal sebagai perasaan seperti senang, sedih, marah, cemas, takut, dan sebagainya. Bentuk-bentuk emosi tersebut terdapat pada setiap orang. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri.
Pengendalian emosi dalam pertandingan olahraga seringkali menjadi faktor penentu kemenangan. Para pelatih harus mengetahui dengan jelas bagaimana gejolak emosi atlet asuhannya, bukan saja dalam pertandingan tetapi juga dalam latihan dan kehidupan sehari-hari. Pelatih perlu tahu kapan dan hal apa saja yang dapat membuat atletnya marah, senang, sedih, takut, dan sebagainya. Dengan demikian pelatih perlu juga mencari data-data untuk mengendalikan emosi para atlet asuhannya. yang tentu saja akan berbeda antara atlet yang satu dengan atlet lainnya.
Gejolak emosi dapat mengganggu keseimbangan psikofisiologis seperti gemetar, sakit perut, kejang otot, dan sebagainya. Dengan terganggunya keseimbangan fisiologis maka konsentrasi pun akan terganggu, sehingga atlet tidak dapat tampil maksimal. Seringkali seorang atlet mengalami ketegangan yang memuncak hanya beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Demikian hebatnya ketegangan tersebut sampai ia tidak dapat melakukan awalan dengan baik. Apalagi jika lawannya dapat menekan dan penonton pun tidak berpihak padanya, maka dapat dibayangkan atlet tersebut tidak akan dapat bermain baik. Konsentrasinya akan buyar, strategi yang sudah disiapkan tidak dapat dijalankan, bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Disinilah perlunya dipelajari cara-cara mengatasi ketegangan (stress mana- gement). Sebelum pelatih mencoba mengatasi ketegangan atletnya. terlebih dulu harus diketahui sumber-sumber ketegangan tersebut. Untuk mengetahuinya, diperlukan adanya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atlet. Berikut ini dijelaskan secara terpisah mengenai aspek-aspek yang berkaitan dengan emosi.

5. Kecemasan dan Ketegangan
Tahu kah anda bahwa atlet yang memiliki kecemasan yang tinggi akan memiliki ambisi prestasi yang rendah dan sebaliknya jika atlet memiliki kecemasan yang rendah akan memiliki ambisi yang besar untuk berprestasi.
Kecemasan biasanya berhubungan dengan perasaan takut akan kehilangan sesuatu, kegagalan, rasa salah, takut mengecewakan orang lain, dan perasaan tidak enak lainnya. Kecemasan-kecemasan tersebut membuat atlet menjadi tegang, sehingga bila ia terjun ke dalam pertandingan maka dapat dipastikan penampilannya tidak akan optimal. Untuk itu, telah banyak diketahui berbagai teknik untuk mengatasi kecemasan dan ketegangan yang penggunaannya tergantung dari macam kecemasannya.
Sebagai usaha untuk dapat mengatasi ketegangan dan kecemasan, khususnya dalam menghadapi pertandingan, lakukanlah beberapa teknik berikut ini :
a. Identifikasikan dan temukan sumber utama dan permasalahan yang menimbulkan kecemasan.
b. Lakukan latihan simulasi, yaitu latihan di bawah kondisi seperti dalam pertandingan sesungguhnya.
c. Usahakan untuk mengingat, memikirkan dan merasakan kembali saat-saat ketika mencapai penampilan paling baik atau paling mengesankan.
d. Lakukan latihan relaksasi progresif, yaitu melakukan peregangan alau pengendoran otot-otot tertentu secara sistematis dalam waktu tertentu.
e. Lakukan latihan otogenik, yaitu bentuk latihan relaksasi yang secara sistematis memikirkan dan merasakan bagian-bagian tubuh sebagai hangat dan berat.
f. Lakukan latihan pernapasan dengan bernapas melalui mulut dan hidung serta secara sadar bernapas dengan menggunakan diafragma.
g. Dengarkan musik (untuk mengalihkan perhatian).
h. Berbincang-bincang, berada dalam situasi sosial (untuk mengalihkan perhatian).
i. Membuat pernyataan-pernyataan positif terhadap diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang diperlukan saat itu.
j. Lain-lain yang dapat mengurangi ketegangan.
Lihat juga dalam blog ini cara-cara melatih mental  atlet dan cara meredakan kecemasan atlet.

5.1 Gejala Kecemasan Bertanding
Gejala kecemasan bermacam-macam bentuk dan kompleksitasnya, namun bisa dilihat dari tingkah laku atlet, berikut ini gejala-gejala kecemasan menurut Gunarsa (1996: 39) :
            Seseorang yang mengalami kecemasan (anxiety) cenderung untuk terus menerus merasa khawatir akan keadaan yang buruk yang akan menimpa dirinya atau diri orang lain yang dikenalnya dengan baik. Biasanya, seseorang yang mengalami kecemasan cenderung tidak sabar, mudah tersinggung, sering mengeluh, sulit berkonsentrasi, dan mudah terganggu tidurnya atau mengalami kesulitan untuk tidur. Penderita anxiety sering mengalami gejala-gejala seperti : berkeringat berlebihan (walaupun udara tidak panas dan bukan setelah berolahraga), jantung berdegup ekstra cepat atau terlalu keras, dingin pada tangan atau kaki, mengalami gangguan pencernaan, merasa mulut kering, merasa tenggorokan kering, tampak pucat, sering buang air kecil melebihi batas kewajaran, dan lain-lain. Penderita anxiety juga sering mengeluh sakit pada persendian, kaku otot, cepat merasa lelah, tidak mampu relaks, sering atau anggota tubuh dengan intensitas dan frekuensi berlebihan, misalnya : pada saat duduk terus-menerus mengoyangkan kaki, meregangkan leher, mengernyitkan dahi, dan lain-lain. Yang didukung oleh Lares (2012: 32), bahwa “orang yang menggoyang-goyangkan kaki menunjukkan dia tengah grogi dan tidak tenang (cemas)”.
Menurut Harsono (1988: 280), bahwa “atlet yang mengalami kecemasan terlihat dari perubahan-perubahan fisiologis seperti : telapak tangan terasa basah karena keringat, otot-otot menjadi tegang, amplitude tremor otot-otot tubuh bertambah besar, kedipan mata menjadi lebih sering, pernapasan menjadi cepat dan dangkal, ada rasa mual, perut mules, pusing, dan sebagainya”.
Berdasarkan uraian di atas, ditarik kesimpulan bahwa gejala kecemasan bertanding dapat dikelompokkan menjadi gejala fisik dan gejala fisiologis. Gejala fisik dan gejala fisiologi ini digunakan lebih lanjut untuk mengungkapkan tingkat kecemasan bertanding.

5.2  Pengaruh Ketegangan dan Kecemasan terhadap Atlet
            Dampak kecemasan dan ketegangan atlet sebelum pertandingan akan mengalami bermacam-macam kesulitan dalam menghadapi pertandingan. Ketegangan dan kecemasan dapat berpengaruh pada kondisi fisik maupun mental atlet yang bersangkutan. Berikut ini merupakan perwujudan dari ketegangan atau kecemasan pada komponen fisik dan mental menurut Gunarsa (2008: 65).
a)  Pengaruh pada kondisi kefaalan
·      Denyut jantung meningkat. Artinya, atlet akan merasakan debaran jantung yang lebih keras atau lebih cepat.
·      Telapak tangan berkeringat. Misalnya, atlet bulutangkis, tenis, atau tenis meja, sering kali mengubah-ubah posisi tangan pada raket atau berusaha mengeringkan telapak tangan dengan cara menyekanya pada baju yang dikenakan.
·      Mulut kering, yang mengakibatkan bertambahnya rasa haus.
·      Gangguan-gangguan pada perut atau lambung, baik yang benar-benar menimbulkan luka pada lampung maupun yang sifatnya semu seperti mual-mual.
·      Otot-otot pundak dan leher menjadi kaku. Kekakuan pada leher dan pundak merupakan ciri yang banyak ditemui pada penderita-penderita stres.
b) Pengaruh pada aspek psikis
·      Atlet menjadi gelisah
·      Gejolak emosi naik turun. Artinya, atlet menjadi sangat peka sehingga cepat bereaksi, atau sebaliknya, reaksi emosinya menjadi tumpul.
·      Konsentrasi terhambat sehingga kemampuan berpikir menjadi kacau.
·      Kemampuan membaca permainan lawan menjadi tumpul.
·      Keragu-raguan dalam pengambilan keputusan.
Jika seorang atlet berada dalam kondisi kefaalan dan psikis seperti tersebut di atas, tentu penampilannya pun akan ikut teganggu. Gangguan yang dialami oleh atlet adalah :
·      Irama permainan menjadi sulit dikendalikan.
·      Pengaturan ketepatan waktu untuk bereaksi menjadi berkurang.
·      Koordinasi otot menjadi tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki. Misalnya, sulit untuk mengatur kekerasan atau kehalusan dalam menggunakan kontraksi otot-otot.
·      Pemakaian energi menjadi boros. Oleh karena itu, dalam kondisi tegang, atlet akan cepat merasa lelah.
·      Kemampuan dan kecermatan dalam membaca permainan lawan menjadi berkurang.
·      Pengambilan keputusan menjadi cenderung tergesa-gesa dan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan.
·      Penampilan saat sedang bermain menjadi dikuasai oleh emosi sesaat. Gerakan pun akan dilakukan tanpa kendali pikiran.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, jika atlet mengalami kecemasan pada kondisi kefaalan dan kondisi psikis, tentu penampilan pun akan terganggu seperti irama permainan yang sulit dikendalikan sehingga atlet akan sulit mencapai prestasi.

5.3. Faktor-Faktor Kecemasan Bertanding
Khawatir tentang sesuatu, gelisah, dan perilaku terguncang merupakan ciri-ciri orang yang cemas karena disebabkan oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor kecemasan secara umum Nevid (2003: 180-185) mengatakan terdiri dari dua (2) faktor, yaitu ; faktor kognitif dan faktor biologis.
1.      Faktor Kognitif
-         Prediksi berlebihan terhadap rasa takut
Orang dengan gangguan-gangguan kecemasan sering kali memprediksi secara berlebihan tentang seberapa besar ketakutan atau kecemasan yang akan mereka alami dalam situasi-situasi pembangkit kecemasan. Orang dengan fobia ular, misalnya, berharap akan gemetar ketika berhadapan dengan seekor ular.
-         Keyakinan yang self-defeating atau irasional
Pikiran-pikiran yang cenderung membesar-besarkan risiko peristiwa kurang menguntungkan yang terjadi. Misalnya, “Bagaimana kalau saya mendapat serangan kecemasan di depan orang banyak ?”.
-         Sensitivitas berlebihan terhadap ancaman
Kita semua mempunyai sistem alarm internal yang sensitif terhadap sinyal ancaman. Misalnya, manusia purba bereaksi dengan cepat terhadap tanda-tanda ancaman, seperti suara gemeresik dari semak-semak yang mungkin mengindikasikan bahwa ada pemangsa yang mau menyerang, mungkin lebih siap untuk mengambil tindangan defensif (menghadapi atau kabur).
-         Sensitivitas kecemasan
Mereka kemungkinan lebih mudah sekali panik bila mereka mengalami tanda-tanda ketubuhan dari kecemasan, seperti jantung berdebar, nafas pendek, karena mereka menganggap sistom-sistom ini sebagai akan datangnya malapetaka, seperti suatu serangan jantung.
-         Salah mengatribusikan sinyal-sinyal tubuh
Sinyal-sinyal tubuh ini dapat muncul sebagai konsekuensi dari hiperventilasi yang tidak terdeteksi, perubahan suhu, atau reaksi terhadap obat atau pengobatan tertentu. Atau hanya sekedar perubahan dalam keadaan tubuh yang wajar-wajar saja yang biasanya tidak dirasakan oleh kebanyakan orang. Tetapi pada individu yang mudah panik, sinyal-sinyal tubuh ini dapat salah diatribusikan dan dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan, sehingga menjadi pendorong timbulnya serangan panik.
-         Self-efficacy yang rendah
Bila anda percaya Anda tidak punya kemampuan untuk menanggulangi tantangan-tantangan penuh stres yang Anda hadapi dalam hidup, Anda akan merasa makin cemas bila Anda berhadapan dengan tantangan-tantangan itu.
            Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang ketakutan, merasa terancam, sangat waspada, sulit berkonsentrasi, dan sebagainya merupakan kecemasan dikarenakan faktor prediksi berlebihan terhadap rasa takut, keyakinan yang self-defeating atau irasional, sensitivitas berlebihan terhadap ancaman, sensitivitas kecemasan, salah mengatribusikan sinyal-sinyal tubuh, dan self-efficacy yang rendah atau faktor ini disebut faktor kognitif.


2.      Faktor Biologis
-         Faktor genetik (faktor keturunan)
-         Neurotransmiter
Ketidak teraturan atau disfungsi dalam reseptor serotonin dan norepinephrine di otak juga memegang peran dalam gangguan-gangguan kecemasan. Hal ini mungkin dapat menjelaskan mengapa obat-obat antidepresi yang mempengaruhi sistem neurotransmiter ini sering kali mempunyai efek menguntungkan dalam menghadapi beberapa tipe gangguan kecemasan, termasuk gangguan panik.
-         Aspek-aspek biokimia pada gangguan panik
Komponen fisik yang kuat pada gangguan panik telah membawah beberapa teoretikus untuk berspekulasi bahwa serangan-serangan panik mempunyai dasar biologis, kemungkinan melibatkan sisitem alarm yang disfungsional di otak.
Psikiater Donald Klein (1994) mempunyai pendapat bahwa kerusakan dalam sistem alarm respiratori otak menyebabkan individu-individu yang mudah panik cenderung untuk menunjukkan reaksi tubuh yang berlebihan terhadap sinyal-sinyal kekurangan udara yang barangkali terjadi karena ada sedikit perubahan pada taraf karbon dioksida dalam darah. Sinyal kekurangan udara yang berasal dari hiperventilasi atau penyebab lainnya memicu suatu alarm respiratori, yang lalu memproduksi aliran sensasi yang melibatkan serangan panik klasik: nafas pendek, sensasi tercekik, terasa pusing, seperti mau pingsan, peningkatan denyut jantung atau palpitasi (jantung berdebar-debar), gemetaran, sensasi panas dingin, dan perasaan mual.



-         Aspek-aspek biologis dari gangguan obsesif-kompulsif
Model biologi lain yang akhir-akhir ini mendapat perhatian mengatakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif dapat melibatkan keterangsangan yang meniggi dari apa yang disebut sebagai sirkuit cemas (worry circuit), suatu jaringan neural di otak yang ikut serta dalam memberi sinyal bahaya. Pada gangguan obsesif-kompulsif (OCD), otak dapat secara konstan mengirim pesan bahwa ada sesuatu yang salah dan memerlukan perhatian segera, hal ini membawah kepada pikiran-pikiran kecemasan obsesional dan tingkah laku kompulsif repetitif.
            Dari penjelasan faktor biologis di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang gelisah, gemetar, banyak keringat, pening, sulit bernafas, leher kaku, perut mual, badan panas dingin, wajah memerah, mudah marah, dan sebagainya merupakan ciri-ciri kecemasan dikarenakan faktor genetik (faktor keturunan), neurotransmiter, aspek-aspek biokimia pada gangguan panik, dan aspek-aspek biologis dari gangguan obsesif-kompulsif atau hal ini disebut faktor biologis.
Dalam buku Gunarsa (2008: 67), mengkhususkan dalam bidang olahraga, sumber ketegangan dan kecemasan yang dialami oleh atlet dapat berasal dari dalam diri atlet tersebut serta dapat pula berasal dari luar diri atlet atau lingkungan. Berikut ini merupakan sumber-sumber ketegangan dan kecemasan atlet menurut Gunarsa (2008: 67) :
a)    Sumber dari dalam
·        Atlet terlalu terpaku pada kemampuan teknisnya. Akibatnya, ia didominasi oleh pikiran-pikiran yang terlalu membebani, seperti komitmen yang berlebihan bahwa ia harus bermain sangat baik.
·        Munculnya pikiran-pikiran negatif, seperti ketakutan akan dicemooh oleh penonton jika tidak memperlihatkan penampialan yang baik. Pikiran-pikiran negatif tersebut menyebabkan atlet mengantisipasikan suatu kejadian yang negatif.
·        Alam pikiran atlet akan sangat dipengaruhi oleh kepuasan yang secara subjektif ia rasakan di dalam dirinya. Padahal, hal tersebut sering kali tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya atau tuntutan diri pihak lain seperti pelatih dan penonton. Pada atlet akan muncul perasaan khwatir akan tidak mampu memenuhi keinginan pihak luar sehingga menimbulkan ketegangan baru.


Dampak ketegangan dan kecemasan terhadap penampilan atlet akan secara bertingkat berakibat negatif, sebagaimana terlihat pada bagan di atas. Apabila tingkat kecemasan tinggi akan mempengaruhi peregangan otot-otot yang berpengaruh pula terhadap kemampuan teknisnya, penampilan pun akan terpengaruh (tentunya lebih buruk) dengan akibat permainan/ penampilan menjadi lebih buruk. Selanjutnya, alam pikiran semakin terganggu dan muncul berbagai pikiran negatif, misalnya ketakutan akan kalah muncul kecemasan baru.
b)        Sumber dari luar
·    Munculnya berbagai rangsangan yang membingungkan. Rangsangan tersebut dapat berupa tuntutan atau harapan dari luar yang menimbulkan keraguan pada atlet untuk mengetahui hal tersebut, atau sulit terpenuhi. Keadaan ini menyebabkan atlet mengalami kebingungan untuk menentukan penampilannya, bahkan kehilangan kepercayaan diri.
·    Pengaruh massa. Dalam pertandingan apa pun, emosi massa sering berpengaruh besar terhadap penampilan atlet, terutama jika pertandingan tersebut sangat ketat dan menegangkan.
·    Saingan-saingan lain yang bukan lawan tandingannya. Seorang atlet menjadi sedemikian tegang ketika menghadapi kenyataan bahwa ia mengalami kesulitan untuk bermain sehingga keadaannya menjadi berdesak. Pada saat harapan untuk menang sedang terancam, akan muncul berbagai pemikiran-pemikiran negatif, antara lain adalah:
v “Jika saya gagal dalam pertandingan ini, maka saingan saya yang nantinya akan maju”.
v “Jika saya kalah dalam pertandingan ini, maka saya akan dicoret sebagai anggota tim inti dari regu ini, lalu saingan saya akan menggantikan posisi saya”.
v “Jika saya tidak berhasil dalam pertandingan ini, saya akan kehilangan sumber penghasilan yang baik”.
·                                                                                                                                                                                                                                                                Pelatih yang memperlihatkan siap tidak mau memahami bahwa ia telah berupaya sebaik-baiknya. Pelatih seperti ini sering menyalahkan atau bahkan mencemooh atletnya, yang sebenarnya dapat menguncangkan kepribadian atlet tersebut.
·                                                                                                                                                                                                                                                                Hal-hal non-teknis seperti kondisi lapangan, cuaca yang tidak bersahabat, angin yang bertiup terlalu kencang, atau peralatan yang dirasakan tidak memadai.
Atlet yang selalu mengalami kecemasan sebelum pertandingan baik sumber dari dalam maupun sumber dari luar akan mempengaruhi penampilan atlet atau atlet akan sulit berkonsentrasi terhadap pertandingan sehingga prestasinya akan menurun  seperti prestasi waktu latihan atau bisa di katakan atlet akan sulit mencapai prestasi seperti yang diinginkan pelatihnya.
          Kecemasan ternyata dipengaruhi oleh berbagai macam dan berbeda-beda pendapat parah ahli. Pate (1984: 81- 89), menambahkan sumber kecemasan bertanding dan juga faktor-  faktor kecemasan bertanding :
·                                                                                                                                                                                                                                                              Berpengalaman dan tak berpengalaman
Sudah barang tentu sangat mungkin bahwa olahragawan yang tidak berpengalaman menjadi gugup, terancam dan bahkan jatuh mental pada saat mereka bermain ditempatnya sendiri, bermain jauh dari tempatnya asalnya, bermain dengan lawan yang penting, atau bermain dalam turnamen biasa atau pasca turnamen.
·                                                                                                                                                                                                                                                              Pemekaan
Kadang-kadang, pengalaman atau keterdedahan yang berulang kali terhadap sumber stres akan cenderung menambah stres dari pada menurunkannya. Gejala ini dinamakan pemekaan
·                                                                                                                                                                                                                                                              Banyak pertanyaan tidak terjawab
 Situasi bertanding macam apapun penyebabkan olahragawan bertanya, “dapatkah saya mengatasi situasi ini ?, dapatkah saya melawan dia ?” dapat membawah kearah stres yang meningkat. Tidak ada jawaban sebagai jalan keluar. Sebenarnya, inilah apa yang disebut dengan tekanan pertandingan.
·                                                                                                                                                                                                                                                              Takut pada yang tidak diharapkan
Para pengikut olahraga sering mengalami tingkat stres yang luas bisa tingginya pada saat mereka menghadapi lawan yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya atau lawan yang tidak mereka kenali catatan prestasinya (tidak ada persiapan).
·                                                                                                                                                                                                                                                              Tuntutan untuk peningkatan
Tekanan pertandingan dapat timbul dalam berbagai bentuk. Perkembangan dan peningkatan yang tetap yang dibutuhkan untuk keberhasilan atletik sering merupakan sumber tekanan.
·                                                                                                                                                                                                                                                              Orang tua dan Masyarakat mencintai pemenang
Orang tua dapat menjadi sumber stres yang utama. Orang tua yang memaksa anak-anaknya dan mencintai mereka hanya apabila mereka berhasil menambah stres yang dialami oleh para olahragawan muda.
·                                                                                                                                                                                                                                                              Tekanan akademis
Nilai-nilai akademis seringkali menjadi sumber utama stres sosial olahragawan usia sekolah. Olahragawan yang terganggu dalam latihan oleh pikiran yang gelisah tentang tes yang baru saja gagal, dapat mengalami penurunan penampilan olahraganya.
·                                                                                                                                                                                                                                                              Tekanan pelatih
Pelatih adalah sumber utama pujian dan hukuman; mereka dapat mendorong dan mengisi olahragawan dengan percaya diri atau mereka dapat menghambat dan menghancurkan rasa percaya diri.
·                                                                                                                                                                                                                                                              Diri sendiri
Dalam usaha mereka untuk mencapai potensi, olahragawan sering kali menempatkan tekanan/tuntutan yang tidak realistik dan menyelahkan diri sendiri, kepada diri mereka sendiri
Syahrastani (1999: 87) mengatakan sumber kecemasan karena tuntutan sosial yang berlebihan dan tidak dapat dipenuhi oleh individu yang bersangkutan, standar prestasi individu yang terlalu tinggi dengan kemampuan yang dimilikinya. Kecenderungan sifat perfeksionis, perasaan rendah diri pada individu yang bersangkutan, kurang siapan individu sendiri untuk menghadapi situasi yang ada, pola pikir yang dan persepsi negatif terhadap situasi yang ada ataupun terhadap diri sendiri.

6. Kepercayaan Diri
Dalam olahraga, kepercayaan diri sudah pasti menjadi salah satu faktor penentu suksesnya seorang atlet. Masalah kurang atau hilangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri akan mengakibatkan atlet tampil di bawah kemampuannya. Karena itu sesungguhnya atlet tidak perlu merasa ragu akan kemampuannya, sepanjang ia telah berlatih secara sungguh-sungguh dan memiliki pengalaman bertanding yang memadai.
Peran pelatih dalam menumbuhkan rasa percaya diri atletnya sangat besar. Syarat untuk untuk membangun kepercayaan diri adalah sikap positif. Beritahu pemain di mana letak kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Buatkan program latihan untuk setiap atlet dan bantu mereka untuk memasang target sesuai dengan kemampuannya agar target dapat tercapai jika latihan dilakukan dengan usaha keras. Berikan kritik membangun dalam melakukan penilaian terhadap atlet. Ingat, kritik negatif bahkan akan mengurangi rasa percaya diri.
Jika pemain telah bekerja keras dan bermain bagus (walaupun kalah), tunjukkan penghargaan Anda sebagai pelatih. Jika pemain mengalami kekalahan (apalagi tidak dengan bermain baik), hadapkan ia pada kenyataan objektif. Artinya, beritahukan mana yang telah dilakukannya secara benar dan mana yang salah, serta tunjukkan bagaimana seharusnya. Menemui pemain yang baru saja mengalami kekalahan harus dilakukan sesegera mungkin dibandingkan dengan menemui pemain yang baru saja mencetak kemenangan.

7. Komunikasi
Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah, khususnya antara atlet dengan pelatih. Masalah yang sering timbul dalam hal kurang terjalinnya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atletnya adalah timbulnya salah pengertian yang menyebabkan atlet merasa diperlakukan tidak adil, sehingga tidak mau bersikap terbuka terhadap pelatih. Akibat lebih jauh adalah berkurangnya kepercayaan atlet terhadap pelatih.
Untuk menghindari terjadinya hambatan komunikasi, pelatih perlu menyesuaikan teknik-teknik komunikasi dengan para atlet seraya memperhatikan asas individual. Keterbukaan pelatih dalam hal pogram latihan akan membantu terjalinnya komunikasi yang baik, asalkan dilakukan secara objektif dan konsekuen. Atlet perlu diberi pengertian tentang tujuan program latihan dan fungsinya bagi tiap-tiap individu.
Sebelum program latihan dijalankan, perlu dijelaskan dan dibuat peraturan mengenai tata tertib latihan dan aturan main lainnya termasuk sanksi yang clikenakan jika terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang telah dibuat tersebut. Jadi, hindarilah untuk memberlakukan suatu sanksi yang belum pernah diberitahukan sebelumnya. Misalnya, seorang atlet minum Coca Cola dalam latihan, lalu dihukum oleh pelatih. Atlet tersebut bingung dan bertanya-tanya mengapa ia dihukum karena ia tidak pernah dijelaskan sebelumnya oleh pelatih bahwa dalam latihan dilarang minum minuman bersoda.
Demikian pula dalam hal pelaksanaanya. Peraturan yang sudah dibuat, haruslah dijalankan secara konsekuen. Artinya, jika seorang atlet dihukum karena melanggar peraturan tertentu, maka jika ada atlet lain yang melanggar peraturan yang sama ia pun harus mendapat hukuman yang sama. Demikian pula jika atlet yang sama melakukannya lagi di kemudian hari.
Pelatih pun perlu bersikap objektif dan berpikir positif. Bersikap objektif maksudnya adalah bersikap sesuai dengan kenyataan atau fakta apa adanya tanpa menyangkutpautkan dengan hal lain. Jika pelatih marah terhadap atlet karena misalnya si atlet datang terlambat dalam latihan, maka hukumlah atlet itu hanya atas keterlambatannya, jangan dihubungkan dengan hal-hal lain (ingat, hukuman tersebut harus sudah tertera dalam tata tertib latihan).

8. Konsentrasi
Konsentrasi merupakan suatu keadaan di mana kesadaran seseorang tertuju kepada suatu obyek tententu dalam waktu tertentu. Makin baik konsentrasi seseorang, maka makin lama ia dapat melakukan konsentrasi. Dalam olahraga, konsentrasi sangat penting peranannya. Dengan berkurangnya atau terganggunya konsentrasi atlet pada saat latihan, apalagi pertandingan, maka akan timbul berbagai masalah.
Dalam olahraga, masalah yang paling sering timbul akibat terganggunya konsentrasi adalah berkurangnya akurasi lemparan, pukulan, tendangan & tembakan sehingga tidak mengenai sasaran. Akibat lebih lanjut jika akurasi berkurang adalah strategi yang sudah dipersiapkan menjadi tidak jalan, sehingga atlet akhimya kebingungan, tidak tahu harus bermain bagaimana dan pasti kepercayan dirinya pun akan berkurang. Untuk menghindari keadaan tersebut, perlu dilakukan latihan berkonsentrasi.
9. Evaluasi Diri
Evaluasi diri dimaksudkan sebagai usaha atlet untuk mengenali keadaan yang terjadi pada dirinya sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar atlet dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya pada saat yang lalu maupun saat ini. Dengan bekal pengetahuan akan keadaan dirinya ini maka pemain dapat memasang target latihan maupun target pertandingan dan cara mengukurnya. Kegunaan lainnya adalah untuk mengevaluasi hal-hal yang telah dilakukannya, sehingga memungkinkan untuk mengulangi penampilan terbaik dan mencegah terulangnya penampilan buruk.
Oleh karena itu, pelatih perlu menginstruksikan atletnya untuk memiliki buku catatan harian mengenai latihan dan pertandingan. Minta pemain untuk menuliskan kelemahan dan kelebihan diri sendiri, baik dalam segi fisik, teknik, maupun mental. Kemudian koreksilah jika menurut Anda sebagai pelatih ada hal-hal yang tidak sesuai atau ada yang kurang.
Biasakan agar atlet mengisi buku tersebut secara teratur. Ajak atlet untuk menuliskan di dalam bukunya hal-hal yang intinya sebagai berikut:
- Target jangka panjang, menengah, dan jangka pendek dalam latihan dan pertandingan.
- Sesuatu yang dilakukan dan dipikirkan sebelum latihan atau pertandingan.
- Suatu gerakan atau penampilan mengesankan.
- Catatan mengenai kelemahan dan kelebihan lawan yang akan dihadapi dan strategi menghadapinya.
- Hasil dan jalannya pertandingan.
- Hal yang mengganggu emosi atau membuat penampilan jadi buruk.
- Penghargaan yang didapat atas suatu keberhasilan.
Pastikan bahwa buku tersebut diisi secara teratur oleh setiap atlet. Namun perlu diingat bahwa pelatih jangan terlalu memaksa untuk membaca buku harian atlet. Biarkan itu menjadi bagian dan rahasia pribadi mereka. Yang perlu dipantau oleh pelatih adalah bahwa atlet mempunyai bahan bagi dirinya sendiri untuk melakukan evaluasi.

10 Kejenuhan dan Kebosanan
Karena latihan yang berkepanjangan dan melelahkan atlet akan merasa bosan dan jenuh yang tentunya akan menimbulkan  reaksi atlet dan akan perpengaruh negatif terhadap prestasi atlet. Disinilah dibutuhkan pelatih yang kreatif, mencari cara bagaimana agar atlet tidak merasa jenuh dan bosan selama mengikuti latihan yang panjang. Hackney,A.C., Perlamen, S.N. & Nowacki, J,M. (1990), tanda-tanda atau reaksi-reaksi dari kejenuhan:
a)      Hilangnya minat bermain.
b)      Berkurangnya kepedulian.
c)      Gangguan tidur.
Penelitian Savis (1994) menyimpulkan bahwa faktor tidur tidak sama pengaruhnya terhadap prestasi semua atlet. Setiap atlet mempunyai pola sendiri dalam hal hubungan antara tidur dan prestasinya. Akan tetapi, bagi atlet-atlet yang akan mengikuti pertandingan atau kompetisi, perlu diperhitungkan faktor-faktor yang dapat mengatur tidur (pergantian musim, kondisi fitness tubuh, perjalanan yang melampaui perbatasan jam, dan kecemasan) yang pada gilirannya mungkin dapat mengganggu prestasi.
d)      Kejenuhan fisik dan mental.
e)      Sakit kepala.
f)        Perubahan suasana emosi.
g)      Ketergantungan pada benda atau Zat tertentu.
h)      Perubahan pada sistim nilai dan keyakinan.
i)        Ketersisihan emosi.
j)        Peningkatan kecemasan.
Untuk mengatasi kondisi atau keadaan jenuh dan bosan yang dialami atlet, diperlukan upaya-upaya tertentu, antara lain:
a)      Mengurangi latihan monoton.
b)      Menghentikan latihan untuk sementara (istirahat pasif).
c)      Mengubah lingkungan berlatih.
d)      Mengubah pola latihan yang telah dilakukan setiap hari secara terus-menerus menjadi temuan yang baru (misal; kalau latihan fisik bisa diganti dengan berenang bersama-sama, main voli, dll)
e)      Melakukan variasi dalam kehidupan sehari-hari.
f)        Mengembangkan keterampilan psikologis seperti relaksasi, imajeri, penentuan sasaran dan self talk atau sugesti diri sendiri positif.
g)      Mengubah gaya-gaya melatih (misal; yang dulu otoriter bisa diganti dengan demokrasi).
h)      Dll

11. Overtraining
Dalam penelitian Hollander, Mayers (1995) menyimpulkan bahwa latihan berlebihan (overtrening) memberi dampak negatif baik pada atlet maupun pada pelatih: bosan, lelah, motivasi dan kegembiraan menurun, stres, sasaran prestasi tidak tercapai, dan terjadi peningkatan kemungkinan kecelakaan. Latihan yang berlebihan ini dapat diatasi dengan merumuskan tujuan, sistem reward, dan pengaturan jadwal yang tepat.

12. Mengenal atlet lewat kepribadian
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menilai seseorang dan kadang penilaian yang menurut kita suda pas namun kadang salah. Banyak yang mempengaruhi kepribadian; misalnya dari keturunan, faktor makanan, faktor keluarga, faktor lingkungan, dan lain-lain. Agar hubungan, komunikasi, dan pertemanan  kita dengan orang lain baik dan lancar maka perlunya kita mengetahui karakter dan kepribadian orang tersebut. Begitu juga seorang pelatih, pelatih yang baik harus tau setiap kepribadian individu atletnya, karena tidak sama kepribadian setiap manusia dan tidak sama cara menghadapi setiap manusia. Ada atlet suka di puji ada yang tidak suka dipuji, ada atlet semakin bersemangat jika di marahi oleh pelatih, ada semakin membangkang jika dimarahi pelatih, dll. Jika kita sudah tau kepribadian atlet maka kita tentunya akan tau cara menghadapinya akan tau apakah dia berbohong atau tidak, bagaimana melatihnya, dan sebagainya.

13. Mengenal atlet lewat bahasa tubuh dan jenis tubuh dan bentuk wajah atlet

C. Persiapan Pertandingan
Setelah atlet dilatih baik fisik, teknik, strategi, maupun mentalnya dengan program latihan yang tepat, maka untuk menguji hasil latihannya adalah dengan lterjun ke dalam pertandingan. Tentunya diharapkan bahwa setiap pemain akan dapat menampilkan seluruh kemampuannya yang didapat dan latihan. Namun acapkali pemain tampil di bawah form, artinya ia tidak dapat menampilkan seluruh kemampuan yang dimilikinya pada saat pertandingan.
Untuk mengatasi hal seperti di atas, perlu diciptakan situasi yang mendukung yang tercapainya prestasi optimal dan dilakukan perwapan mental untuk menghadapi suatu pertandingan agar si atlet dapat menampilkan seluruh kemampuannya, sehingga tercapailah prestasi puncak.
Ada empat tahap penting dalam persiapan menuju pertandingan, yaitu
(1)   Sebelum hari pertandingan (saat-saat latiahan jauh sebelumnya,persiapan umum, dan persiapan khusus, bisa 1 tahun, ½ tahun, 2 bulan, dll )
(2)   Pada hari pertandingan ( menit-menit pertandingan,sudah berada di lokasih pertandingan )
(3)   Saat pertandingan ( sudah berada di dalam lapangan dan bertanding )
(4)   Setelah hari pertandingan ( setelah selesai semua pertandingan dan kembai ketempat latihan masing-masing )

1. Sebelum Hari Pertandingan
a. Kumpulkan data mengenai kekuatan dan kelemahan lawan. Jika memungkin- kan, putarlah rekaman pertandingannya. Kemudian susunlah strategi untuk menghadapinya. Untuk pemain ganda, diskusikan strategi tersebut dengan pasangannya.
b. Pantau kemajuan atlet, baik fisik maupun mentalnya dengan memperhatikan bagaimana tingkat konsentrasinya, bagaimana irama, timing, power, dan kelancaran menjalankan ketrampilannya serta sikapnya terhadap latihan secara umum.
c. Pantau tingkat kecemasan atlet dengan melihat ekspresi wajahnya apakah cerah atau murung: apakah sinar matanya letih atau segar dan awas. Juga perhatikan suasana hatinya, bagaimana kualitas tidur dan makannya, apakah ia mengalami faktor-faktor psikosomatis seperti sakit perut, nyeri otot, sesak nafas, demam, batuk, keringat dingin, dan sebagainya.
d. Pada saat tidak latihan, pastikan bahwa atlet tidak "hidup dan berpikir" mengenai pertandingannya 24 jam sehan. Berikan aktivitas yang menyenangkan bagi dirinya yang dapat memberikan suasana gembira, sehingga ia bisa mengalihkan pikirannya sejenak dari pertandingan.
e. Satu hari menjelang pertandingan, biasanya cukup latihan ringan saja dan tidak perlu berada di lapangan terlalu lama. Pada malam hari sebelum bertanding, tidurlah pada saat yang tepat, tidak perlu tidur terlalu cepat. Sebelum tidur, lakukan latihan relaksasi dan visualisasi. Jika pertandingan besok dilakukan pagi atau siang hari, siapkan alat-alat perperlengkapan pertandingan, termasuk baju ganti dan perlengkapan cadangan malam ini juga agar esok tidak terburu-buru. Pastikan semua dalam keadaan baik.

2. Pada Hari Pertandingan
a. Bangun tidur pada saat yang tepat, malamnya harus tidur cukup dan tidak berlebihan. Kemudian lakukan aktivitas rutin kebiasaan sehari-hari, seperti sembahyang, berdoa, stretching, sarapan (perhatikan kapan harus makan dan apa yang harus dimakan), latihan relaksasi dan visualisasi, memeriksa kembali perlengkapan pertandingan termasuk cadangannya. Mulailah hari ini dengan gembira, optimis, dan berpikir positif.
b. Berangkatlah ke tempat pertandingan pada saat yang tepat. Perhitungkan jarak ke tempat pertandingan, bagaimana mencapainya, kemacetannya dan sebagainya. Tidak perlu berangkat terlalu cepat, namun jangan sampai terlambat, sehingga tidak ada waktu untuk istirahat, penyesuaian dan pemanasan.
c. Di tempat pertandingan pelatih perlu mengenali atlet mana yang berada didekat teman-temannya dan mana yang lebih suka menyendiri. Pastikan di lapangan mana atlet yang akan bertanding, jangan lupa melapor panitia. Untuk pertandingan pertama, pastikan atlet sudah hapal dimana letak ruang ganti, WC, ruang kesehatan, tes doping, tempat ganti senar, dan sebagainya.
d. Sambil melakukan pemanasan, atlet hendaknya meningkatkan level `semangat' dlan tetap berpikir positif. Pelatih dapat mengingatkan strategi yang akan diterapkan secara sekilas. Lakukan stroke dengan penuh konsentrasi yang kemudian dapat dilanjutkan dengan'visualisasi clan relaksasi.

3. Saat Bertanding
Saat bertanding tiba, bukan waktunya lagi untuk memikirkan teknik memukul atau bagaimana harus melangkah. Itu semua sudah dilatih dalam latihan dan sudah dihayati dalam visualisasi. Sekarang saatnya tinggal mengulang-ulang kejadian yang sudah divisualisasikan dan melakukannya sesuai dengan situasi saat ini. Sekarang adalah saatnya melakukan konsentrasi penuh hanya pada bola dan jalannya pertandingan.
Anjurkan atlet untuk:
a. Memantau clan menyesuaikan tingkat kecemasan, lakukan relaksasi.
b. Pusatkan perhatian semata-mata hanya terhadap permainan yang sedang dijalani. Kesalahan yang baru atau pernah terjadi, clan yang mungkin terjadi jangan dihiraukan.
c. Berpikir positif dan optimis, jangan biarkan pikiran-pikiran negatif.
d. Jangan terlalu banyak menganalisa.
e. Bermainlah dengan irama sendiri, jangan terbawa irama lawan.
f. Menjalankan strategi yang telah disiapkan. Jangan diubah jika strategi itu berjalan. Lakukan evaluasi singkat, jika strategi tidak jalan, lakukan penyesuaian dengan alternatif strategi yang sudah dipersiapkan.
g. Hindari hal-hal negatif seperti, menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, berbicara terhadap diri sendiri berlebihan, berpikir negatif, meragukan kemampuan clan menyerah sebelum pertandingan selesai.
h. Jika bermain bagus, jangan bertanya mengapa clan mengganti apapun; biarkan berjalan demikian. Jangan mengendor jika sedang leading (memimpin pertandingan), clan tidak perlu kasihan jika lawan mendapat angka nol.

4. Setelah Hari Pertandingan
a. Mintalah atlet mencatat hal-hal posisitf maupun negatif yang dirasa berpengaruh terhadap penampilannya dalam pertandingan tadi. Bukan hanya yang bersifat teknik, taktik, clan strategi, tetapi juga yang bersifat mental, bahkan hal-hal kecil lainnya. Catat hasil tersebut dalam buku evaluasi si atlet.
b. Evaluasi penampilan dalam pertandingan tadi. Apakah mencapai sasaran?
c. Putuskan apakah perlu diadakan penyesuaian terhadap program latihan.
d. Pusatkan perhatian terhadap aspek-aspek positif dari penampilan dalam pertandingan.

D. Pelatih Sebagai Pembina Mental Atlit

Pelatih dalam olahraga dapat mempunyai fungsi sebagai pembuat atau pelaksana program latihan, sebagai motivator, konselor, evaluator dan yang bertanggung jawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan kepelatihan tersebut. Sebagai manusia biasa, pelatih sama halnya dengan atlet, mempunyai kepribadian yang unik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Setiap pelatih memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itu tidak ada pelatih yang murni ideal atau sempura.
Dalam mengisi peran sebagai pelatih, seseorang harus melibatkan diri secara total dengan atlet asuhannya. Artinya, seorang pelatih bukan hanya melulu mengurusi masalah atau hal-hal yang berhubungan dengan olahraganya saja, tetapi pelatih juga harus dapat berperan sebagai teman, guru. orangtua, konselor, bahkan psikolog bagi atlet asuhannya. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa atlet sebagai seorang yang ingin mengembangkan prestasi, akan mempunyai kepercayaan penuh terhadap pelatihnya.
Keterlibatan yang mendalam antara pelatih dengan atlet asuhannya harus dilandasi oleh adanya empati dan pelatih terhadap atletnya tersebut.Empati ini merupakan kemampuan pelatih untuk dapat menghayati perasaan atau keadaan atletnya, yang berarti pelatih dapat mengerti atletnya secara total tanpa ia sendiri kehilangan identitas pnbadinya. Untuk mengerti keadaan atlet dapat diperoleh dengan mengetahui atau mengenal hal-hal penting yang ada pada atlet yang bersangkutan. Pengetahuan sekadarnya saia tidak cukup bagi pelatih untuk mengetahui keadaan psikologi atletnya. Dasar dan sikap mau memahami keadaan psikologi atletnya adalah pengertian pelatih bahwa setiap orang memiliki sifat-sifat khusus yang memerlukan penanganan khusus pula dalam hubungan dengan pengembangan potensinya.
Kepribadian seorang pelatih dapat pula membentuk kepribadian atlet yang menjadi asuhannya. Hal terpenting yang harus ditanamkan pelatih kepada atletnya adalah bahwa atlet percaya pada pelatih bahwa apa yang diprogramkan dan dilakukan oleh pelatih adalah untuk kebaikan dan kemajuan si atlet itu sendiri. Untuk bisa mendapatkan kepercayaan tersebut dari atlet, pelatih tidak cukup hanya memintanya, tetapi harus membuktikannya melalui ucapan, perbuatan, dan ketulusan hati. Sekali atlet mempercayai pelatih maka seberat apapun program yang dibuat pelatih akan dijalankan oleh si atlet dengan sungguh-sungguh.

Sumber Dari Buku

Bompa, Tudor O , 1983. Theory and Methodologi of Traning, terj. Sarwono.Surabaya :    Universitas Airlangga.
Gunarsa, Singgih D. , 2002. Psikologi Olahraga Prestasi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, Singgih D., Satiadarma, Myrna Hardjolukito, 1996. Psikologi Olahraga : Teori dan           Praktik. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Harsono, 1988. Coaching dan Aspek-Aspek Psikologi Dalam Coaching. Jakarta:             Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nevid, Jeffrey S., Spencer A. Rathus, Beverly Greene, 2003. Psikologi Abnormal. Jilid 1.     Jakarta:  Erlangga
Syahrastani, 1999. Psikologi Olahraga. Padang: Universitas Negeri Padang.


Sumber dari Internet

Sumber: http://www.bulutangkis.com/mod.php?mod=userpage&menu=403&page_id=7

Silahkan di Like  Fans Page dan Grub di Bawah Ini agar selalu mendapat artikel setiap kami memposting di blog ini:
Olahraga, Pendidikan, Bisnis  (grup)
Toko Buku On Line (Grub)
Toko Buku Online
Olahraga | Pendidikan | Bisnis

Artikel terkait :

*      Kaset karate
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul:

TEORI PSIKOLOGI OLAHRAGA


Ditulis oleh Bermanhot Simbolon, S. Pd.
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://simbolonbermanhot.blogspot.com/2013/08/psikologi-olahraga.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Ricky Pratama support Eva's Blog - Original design by Bamz | Copyright of Olahraga | Pendidikan | Bisnis.
                 

Jumlah Pengunjung

Translite